book
Politik Akal-Ukil: kisah wayang inspiratif
Kisah-kisah pewayangan telah menjadi kekayaan budaya di Nusantara. Melalui wayang, para dalang membawakan berbagai cerita yang berisi tuntunan dan pelajaran hidup kepada para penontonnya. Mulai dari masalah kehidupan sehari-hari hingga tema sosial, politik, budaya, dan seterusnya. Ono Sarwono, seorang wartawan senior, juga menggunakan medium dunia wayang untuk tulisan-tulisannya dalam kolom Pigura. Tulisan yang terbit setiap hari Ahad di harian Media Indonesia itu mengupas berbagai fenomena sosial dan politik di Tanah Air. Mulai dari soal ingar-bingar pemilu, kepemimpinan, kepribadian, kinerja birokrat, dan lain sebagainya. Buku ini mengulas fakta bahwa sesungguhnya politik itu akal-akalan, “semau gue” atau “sakenake udele dhewe” itu juga dipraktikkan di dunia pewayangan. Pelaku utamanya elite Astina bernama Tri Gantalpati yang kondang dengan nama Sengkuni. Kodratnya, Sengkuni memiliki kecerdasan hebat. Namun, keunggulannya di atas rata-rata titah lainnya itu tidak digunakan untuk “memayu hayuning bawana”—membangun peradaban dunia, melainkan untuk memuaskan nafsu politiknya pribadi dan kelompoknya. Tanpa tedeng aling-aling, Sengkuni memang telah meproklamasikan diri bahwa ideologi politiknya ialah pragmatisme. Pemilihan “Akal-Ukil” sebagai judul buku ini karena pesan yang terkandung di dalamnya, yaitu gambaran secara umum akan kondisi perpolitikan di negeri ini. Politik, yang semestinya menjadi jalan membawa bangsa dan negara ini ke kejayaan, ternyata hanya dimanfaatkan elite untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Tidak tersedia versi lain